Masjid Agung Jawa Tengah
Masjid Agung Jawa Tengah
�Sucining guna gapuraning gusti.� Itulah candra sengkala pembangunan Masjid Agung Jateng (MAJ), yang sama dengan tahun 1934 Saka.
Artinya, kemauan dan upaya yang tulus membawa ke arah rida Allah.
MENARA Asmaul Husna, yang berdiri kokoh di sudut barat daya Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) merupakan salah satu daya tarik kawasan itu. Dari bentuknya, bangunan setinggi 99 meter�yang melambangkan nama-nama Allah itu�dikonsep sebagai replika Menara Kudus. Sejak menara itu selesai dibangun, banyak pengunjung yang datang untuk sekadar melihat atau berfoto bersama. Lihatlah, seorang ibu dan dua anaknya yang tengah berpose laiknya model, di depan menara itu.
Sementara, si bapak nampak sibuk mengarahkan kamera-nya untuk menentukan posisi gambar. Kadang-kadang dia sampai berjongkok agar menara itu bisa menjadi background foto keluarganya. Sudah lama kami mendengar tentang kemegahan dan keindahan MAJT. Baru kali ini, kami melihatnya secara langsung. Ya, sekalian mengenalkan anak pada masjid supaya mereka bisa lebih dekat,�� tutur Muslih (39), warga Gombong, Kebumen itu. Dia datang untuk menyambangi keluarga yang tinggal di Semarang. Senyampang anak-anak tengah libur sekolah, mereka diajaknya serta. Nah, setelah kegiatan keluarga rampung, mereka menyempatkan diri mampir berwisata ke MAJT. Tadi juga sudah naik ke menara. Enak, bisa lihat-lihat kota dari atas,�� timpal Endika (12), anak sulung Muslih. Untuk bisa naik ke menara, mereka cukup membayar Rp 2.000 per orang.
Di atas menara tersedia sejumlah teropong untuk melihat Kota Semarang dari ketinggian. Teropong itu bisa dioperasikan jika pengunjung memasukkan koin. Cukup dengan Rp 1.000 mereka bisa menikmati teropong itu selama 1,5 menit. Sekadar informasi, penara yang terdiri atas 20 lantai itu rencananya digunakan untuk museum Islam dan lantai berputar (devolving floor). Lantai paling atas dapat digunakan melihat hilal, penentuan awal Ramadan atau Idul Fitri. Akulturasi Budaya MAJT yang terletak di Jl Gajahraya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari itu memang telah menjelma sebagai tempat wisata alternatif, yang kental dengan nuansa religi di dalamnya. Konsep bangunan yang menggabungkan arsitektur Jawa, Islam, dan Roma itu merupakan pemikat bagi pengunjung yang datang Daya tarik lainnya, berbagai memorabilia yang terkait dengan syiar Islam. Yang sudah ada sekarang, Alquran raksasa tulisan tangan yang merupakan karya H Hayatuddin, khattat (penulis kaligrafi) dari Universitas Sains dan Ilmu Alquran (Unsyiq) Jateng di Wonosobo. Selain itu, ada pula replika beduk raksasa Purworejo, yang dibuat oleh para santri Pesantren Alfalah Mangunsari, Jatilawang, Banyumas. MAJT dibangun pada lahan banda Masjid Kauman seluas 10 hektare, dengan luas bangunan hanya 27.900 meter persegi. Kompleks MAJT itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai sarana sosial dan bisnis, seperti ruang perkantoran, convention hall, penginapan, dan bangunan kios. Bangunan masjid tak menunjukkan kesan mewah, tapi dapat menampung hingga 13.000 umat. Dibandingkan bangunan pendampingnya, bangunan masjid lebih sederhana namun memberi kesan teduh. Pemilihan warna maupun penataan interior masjid dirancang dengan cermat. Rancangan bentuk dan hiasan di dalam masjid didominasi pengaruh dua budaya, Jawa dan Islam. Bentuk kubah, lengkungan, geometri bintang delapan, dan kaligrafi mencerminkan budaya Islam.
Budaya Jawa diwujudkan dalam pemilihan ragam hias. Wayang kulit purwa dan batik menghiasi beberapa bagian masjid. Tepat di bagian tengah masjid terdapat empat tiang. Semua tiang itu dihubungkan dengan lengkungan berwarna putih yang diilhami dari gaya Andalusia. Dasar dari empat tiang itu dihiasi berbagai bentuk ragam hias batik, seperti tumpal, untu walang, kawung, dan parang-parangan. Kesan teduh dan sederhana dihasilkan dari pemilihan warna di bagian dalam masjid. Tiang di langit-langit masjid dan pintu kayu dicat warna hijau. Pintu itu mirip pintu di rumah Jawa, memiliki lubang sehingga angin leluasa keluar masuk. Selain hijau, warna yang mendominasi adalah putih, cokelat, dan krem. Sebagian langit-langit yang berhiaskan bentuk geometri bersegi delapan berwarna krem. Puncak kubah berwarna putih, rencananya akan dihiasi dengan kalimat "Laa ilaaha illallah" dari bahan tembaga. Leher kubah masjid dihiasi kaligrafi surat An Nuur Ayat 35. Konsep Masjid Agung Raya Jateng mengusung paduan budaya Islam dan Jawa. Ciri pertama yang menunjukkan hal itu adalah bentuk atap. Atap masjid berbentuk tajuk, khas masjid Jawa, seperti yang ditemukan di Masjid Agung Demak.
Konsep tajuk itu digabungkan dengan kubah dan minaret, ciri khas masjid pada umumnya. Sementara itu, di plaza depan masjid akan dipasang enam payung berdiameter 48 meter, seperti dilakukan di Masjid Nabawi, Madinah. Ini untuk melindungi jamaah dari sengatan panas matahari.
-from infosemarang.net
Runtime: 2m:4s
Pagoda Avalokitesvara
PAGODA Avalokitesvara di Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang, ditetapkan Museum Rekor Indonesia sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Pagoda yang memiliki tinggi 45 meter itu dibangun tujuh tingkat dengan hampir semua konstruksi bangunannya terbuat dari beton, banyak menggunakan latar warna merah dan beberapa arca di tiap tingkat pagodanya.
Selain itu, dua gazebo besar tampak mengapit di samping kanan-kirinya, yang nantinya digunakan sebagai tempat tambur dan lonceng, yang menjadi salah satu adat kelengkapan pagoda.
Juli lalu Manajer Muri Paulus Pangka menyerahkan penghargaan Muri nomor 2208/ R.MURI/VIII/2006 kepada Paul Sun Kok dan Halim Wijaya pimpinan Yayasan Buddhagaya Watugong, atas berdirinya pagoda tersebut. Diharapkan, keberadaan pagoda pertama di Indonesia itu, bisa menjadi wahana pemersatu sekte-sekte keagamaan Buddha di samping Candi Borobudur.
Pagoda Avalokitesvara ---juga disebut Pagoda Metakaruna atau Pagoda Cinta Kasih Sayang karena keberadaannya untuk menghormati figur cinta kasih dan kasih sayang, yaitu Kwan She Im Poo--- mulai dibangun Agustus tahun lalu. Rencananya pembangunan hanya membutuhkan waktu delapan bulan, namun molor menjadi 10 bulan karena menanti barang-barang dan patung dari Cina. Pembangunan dilatarbelakangi kebutuhan umat akan tempat ibadah yang lebih layak dan nyaman. Sebelumnya, di lokasi itu sudah berdiri vihara kecil yang didirikan tahun 1957.
Avalokitesvara Buddhagaya memiliki banyak keistimewaan. Mulai dari genteng, aksesori, relief tangga dari batu (9 naga), kolam naga, lampu naga, air mancur naga, hingga patung burung hong dan kilin, seluruhnya diimpor dari China.
Selain itu, pagoda itu terdiri atas tujuh tingkat. Tiap tingkat memiliki empat buah patung Dewi Kwan Im yang menghadap ke empat penjuru. Khusus di tingkat pertama, terdapat empat patung yang berbeda-beda. Patung Dewi yang membawa bunga dan teratai bisa digunakan pengunjung untuk berdoa agar dimudahkan mendapatkan jodoh.
Patung Dewi dengan membawa anak perempuan, ditujukan bagi pengunjung yang berkeinginan memiliki anak perempuan. Demikian pula dengan patung Dewi yang membawa anak laki-laki, digunakan pengunjung berdoa agar mendapatkan anak laki-laki. Satu lagi, patung Dewi Kwan Im digunakan pengunjung untuk memohon panjang umur. Khusus di tingkat VII, diisi empat buah patung Amitaba.
Selain 24 patung Dewi Kwan Im dan empat patung Amitaba, di tingkat I juga diletakkan satu patung besar Dewi Kwan Im dengan tinggi 5,10 meter serta satu patung Panglima We Do. Jumlah total patung yang ada di pagoda itu 30 buah. Patung besar Dewi Kwan Im dipasang menghadap Kota Semarang dengan tujuan agar masyarakat terhindar dari segala bencana. Patung Panglima We Do dimaksudkan sebagai pelindung keselamatan sekaligus penjaga pagoda tersebut
- from cybertokoh -
Runtime: 1m:43s