Gereja Blenduk
Gereja Blenduk (kadang-kadang dieja Gereja Blendug dan seringkali dilafazkan sebagai mBlendhug) adalah Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda yang tinggal di kota itu pada 1753, dengan bentuk heksagonal (persegi delapan). Gereja ini sesungguhnya bernama Gereja GPIB Immanuel, di Jl. Letjend. Suprapto 32. Kubahnya besar, dilapisi perunggu, dan di dalamnya terdapat sebuah orgel Barok. Arsitektur di dalamnya dibuat berdasarkan salib Yunani. Gereja ini direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde, yang menambahkan kedua menara di depan gedung gereja ini. Nama Blenduk adalah julukan dari masyarakat setempat yang berarti kubah.
Gereja ini masih dipergunakan setiap hari Minggu.
Di sekitar gereja ini juga terdapat sejumlah bangunan lain dari masa kolonial Belanda.
Runtime: 2m:8s
( Not yet rated )
From:
syant
Views:
211
Comments:
0
Added:
1403 days ago
Lawang Sewu
Lawang Sewu merupakan sebuah Gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1903 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda Semarang yang dahulu disebut Wilhelmina Plein.
Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu). Ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang banyak sekali (dalam kenyataannya pintu yang ada tidak sampai seribu, mungkin juga karena jendela bangunan ini tinggi dan lebar, masyarakat juga menganggapnya sebagai pintu).
Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa pertempuran lima hari di Semarang, di gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.
Saat ini bangunan yang berusia 100 tahun tersebut kosong dan bereputasi buruk sebagai bangunan angker dan seram. Sesekali digunakan sebagai tempat pameran, diantaranya Semarang Expo dan Tourism Expo.Pernah ada juga wacana yang ingin mengubahnya menjadi hotel.
Runtime: 2m:33s
( Not yet rated )
From:
syant
Views:
1735
Comments:
1
Added:
1403 days ago
Masjid Agung Jawa Tengah
Masjid Agung Jawa Tengah
�Sucining guna gapuraning gusti.� Itulah candra sengkala pembangunan Masjid Agung Jateng (MAJ), yang sama dengan tahun 1934 Saka.
Artinya, kemauan dan upaya yang tulus membawa ke arah rida Allah.
MENARA Asmaul Husna, yang berdiri kokoh di sudut barat daya Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) merupakan salah satu daya tarik kawasan itu. Dari bentuknya, bangunan setinggi 99 meter�yang melambangkan nama-nama Allah itu�dikonsep sebagai replika Menara Kudus. Sejak menara itu selesai dibangun, banyak pengunjung yang datang untuk sekadar melihat atau berfoto bersama. Lihatlah, seorang ibu dan dua anaknya yang tengah berpose laiknya model, di depan menara itu.
Sementara, si bapak nampak sibuk mengarahkan kamera-nya untuk menentukan posisi gambar. Kadang-kadang dia sampai berjongkok agar menara itu bisa menjadi background foto keluarganya. Sudah lama kami mendengar tentang kemegahan dan keindahan MAJT. Baru kali ini, kami melihatnya secara langsung. Ya, sekalian mengenalkan anak pada masjid supaya mereka bisa lebih dekat,�� tutur Muslih (39), warga Gombong, Kebumen itu. Dia datang untuk menyambangi keluarga yang tinggal di Semarang. Senyampang anak-anak tengah libur sekolah, mereka diajaknya serta. Nah, setelah kegiatan keluarga rampung, mereka menyempatkan diri mampir berwisata ke MAJT. Tadi juga sudah naik ke menara. Enak, bisa lihat-lihat kota dari atas,�� timpal Endika (12), anak sulung Muslih. Untuk bisa naik ke menara, mereka cukup membayar Rp 2.000 per orang.
Di atas menara tersedia sejumlah teropong untuk melihat Kota Semarang dari ketinggian. Teropong itu bisa dioperasikan jika pengunjung memasukkan koin. Cukup dengan Rp 1.000 mereka bisa menikmati teropong itu selama 1,5 menit. Sekadar informasi, penara yang terdiri atas 20 lantai itu rencananya digunakan untuk museum Islam dan lantai berputar (devolving floor). Lantai paling atas dapat digunakan melihat hilal, penentuan awal Ramadan atau Idul Fitri. Akulturasi Budaya MAJT yang terletak di Jl Gajahraya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari itu memang telah menjelma sebagai tempat wisata alternatif, yang kental dengan nuansa religi di dalamnya. Konsep bangunan yang menggabungkan arsitektur Jawa, Islam, dan Roma itu merupakan pemikat bagi pengunjung yang datang Daya tarik lainnya, berbagai memorabilia yang terkait dengan syiar Islam. Yang sudah ada sekarang, Alquran raksasa tulisan tangan yang merupakan karya H Hayatuddin, khattat (penulis kaligrafi) dari Universitas Sains dan Ilmu Alquran (Unsyiq) Jateng di Wonosobo. Selain itu, ada pula replika beduk raksasa Purworejo, yang dibuat oleh para santri Pesantren Alfalah Mangunsari, Jatilawang, Banyumas. MAJT dibangun pada lahan banda Masjid Kauman seluas 10 hektare, dengan luas bangunan hanya 27.900 meter persegi. Kompleks MAJT itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai sarana sosial dan bisnis, seperti ruang perkantoran, convention hall, penginapan, dan bangunan kios. Bangunan masjid tak menunjukkan kesan mewah, tapi dapat menampung hingga 13.000 umat. Dibandingkan bangunan pendampingnya, bangunan masjid lebih sederhana namun memberi kesan teduh. Pemilihan warna maupun penataan interior masjid dirancang dengan cermat. Rancangan bentuk dan hiasan di dalam masjid didominasi pengaruh dua budaya, Jawa dan Islam. Bentuk kubah, lengkungan, geometri bintang delapan, dan kaligrafi mencerminkan budaya Islam.
Budaya Jawa diwujudkan dalam pemilihan ragam hias. Wayang kulit purwa dan batik menghiasi beberapa bagian masjid. Tepat di bagian tengah masjid terdapat empat tiang. Semua tiang itu dihubungkan dengan lengkungan berwarna putih yang diilhami dari gaya Andalusia. Dasar dari empat tiang itu dihiasi berbagai bentuk ragam hias batik, seperti tumpal, untu walang, kawung, dan parang-parangan. Kesan teduh dan sederhana dihasilkan dari pemilihan warna di bagian dalam masjid. Tiang di langit-langit masjid dan pintu kayu dicat warna hijau. Pintu itu mirip pintu di rumah Jawa, memiliki lubang sehingga angin leluasa keluar masuk. Selain hijau, warna yang mendominasi adalah putih, cokelat, dan krem. Sebagian langit-langit yang berhiaskan bentuk geometri bersegi delapan berwarna krem. Puncak kubah berwarna putih, rencananya akan dihiasi dengan kalimat "Laa ilaaha illallah" dari bahan tembaga. Leher kubah masjid dihiasi kaligrafi surat An Nuur Ayat 35. Konsep Masjid Agung Raya Jateng mengusung paduan budaya Islam dan Jawa. Ciri pertama yang menunjukkan hal itu adalah bentuk atap. Atap masjid berbentuk tajuk, khas masjid Jawa, seperti yang ditemukan di Masjid Agung Demak.
Konsep tajuk itu digabungkan dengan kubah dan minaret, ciri khas masjid pada umumnya. Sementara itu, di plaza depan masjid akan dipasang enam payung berdiameter 48 meter, seperti dilakukan di Masjid Nabawi, Madinah. Ini untuk melindungi jamaah dari sengatan panas matahari.
-from infosemarang.net
Runtime: 2m:4s
( Not yet rated )
From:
syant
Views:
864
Comments:
0
Added:
1403 days ago
( Not yet rated )
From:
syant
Views:
1050
Comments:
0
Added:
1403 days ago
Museum Mandala Bhakti
Museum Mandala Bhakti
Lokasi :Jl. Mgr.Sugiyopranoto Semarang
Pemilik:Kodam IV Diponegoro
Penggunaan:
semula:Raad van Justitie
Sekarang : Museum Mandala Bhakti
Tanggal Pembangunan:
Merupakan bangunan setangkup fadase tunggal. Memiliki dua lantai dan orientasi bangunan ke arah Utara. Pondasi dari batu, srtuktur dari bata dan dinding dari bata berplester.Bentuk atap limasan dengan bahan penutup dari genteng. Terdapat serambi pada sepanjang sisi depan bangunan, baik pada lantai pertama maupun lantai kedua.Serambi lantai pertama dinaungi lantai balkom lantai kedua. Sedangkan serambi lantai kedua dengan atap yang menyatu dengan bangunan utama. Serambi ini sebagian dinding bagian atas. Entrance tampil menonjol dengan pelubangan yang berfungsi sebagai bovenlicht dan elemen estetis. Demikian juga dinding sebelahnya, dihiasi dengan lubang-lubang yang memberi kesan formal pada fasadenya. Di atas pelubangan ini, juga terdapat angin dari tatanan rooster.
Bangunan ini pertama kali dirancang sebagai Raad van Justitie atau Pengadilan Tinggi bagi golongan rakyat Eropa di Semarang. Maka tidaklah heran apabila massanya sedemikian formal dan kaku. Perancangnya adalah arsitek I. Kuhr E. dari Firma Ooiman dan van Leeuwen. Bangunan ini terletak frontal dari arah jl. Pemuda tepat di depannya adalah lapangan Tugumuda (d.h Wilhelmina plein).Melihat dari tahun berkaryanya Ir. Kuhr E. di Indonesia, diperkirakan bahwa bangunan Raad van Justitie ini dibangun sekitar tahun 1930. Tahun 1950-an bangunan ini digunakan oleh Kodam IV Diponegoro sebagai Markas Besar Komando Wilayah Pertahanan II. Sekarang digunakan oleh Kodam IV Diponegoro sebagai Museum Mandala Bhakti. Setelah Tugumuda dibangun pada tahun 1950, ternyata tugu ini tidak diletakkan si pusat bundaran, melainkan agak ke tepi, ke arah museum ini, agar sumbu utama bundaran mengarah langsung dan menerus dari Jalan Pemuda.
Runtime: 2m:17s
( Not yet rated )
From:
syant
Views:
297
Comments:
0
Added:
1403 days ago
Museum Ronggowarsito
Museum Jawa Tengah Ronggowarsito, termasuk museum propinsi terbesar di Indonesia dalam hal jumlah koleksi dan keluasan bangunan terletak pada Jalan Abdulrahman Saleh Nomor 1 Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, persis di sebelah bundaran Kalibanteng. Terletak dekat bandara Ahmad Yani di Semarang dan hanya 4 km jauhnya dari pusat kota ke arah barat.
Museum Jawa Tengah Ronggowarsito dapat dihubungi via :
Telpon/fax : (6224) 760238
Email : cs@museumronggowarsito.org
Museum yang terletak di Jl. Abdul Rahman Saleh ini merupakan museum terlengkap di Semarang yang memiliki koleksi mengenai sejarah, alam, arkeologi, kebudayaan, era pembangunan dan wawasan nusantara. Dengan nama yang diambil dari salah satu pujangga Indonesia yang terkenal dengan hasil karyanya dalam bidang filsafat dan kebudayaan, museum ini menempati luas tanah 1,8 ha. Museum ini dibuka setiap hari pukul 08.00-14.00 WIB kecuali hari Senin.
Runtime: 2m:15s
( Not yet rated )
From:
syant
Views:
1065
Comments:
0
Added:
1403 days ago
ORANG KAYA - CIBINONG PLEM BAND
WAHAI KEKASIH KU... DULU KAU MENINGGALKAN KU, DISAAT AKU MENJADI TUKANG SABIT RUMPUT. DULU. KITA TELAH BERJANJI UNTUK MENIKAH TAPI KAMU MENGINGKARI JANJI KITA LANTARAN KAMU TIDAK SABAR MENUNGGU. ATAU MUNGKIN JUGA RAGU KALAU KAMU KELAK HIDUP DENGAN KU AKAN DIBERI MAKAN BATU DAN PASIR BANGUNAN. AKU SUDAH BILANG BERKALI KALI BAHWA AKU MANUSIA HEBAT HEHEHE... KINI AKU SUDAH JADI ORANG KAYA.. ORANG GUANTENG... TEMEN GUE ARTIS SEMUA... TERLAMBAT SUDAH JIKA ENGKAU MENGHARAP CINTA KU KEMBALI...
Runtime: 3m:24s
( Not yet rated )
From:
danrhama
Views:
299
Comments:
0
Added:
81 days ago
Pagoda Avalokitesvara
PAGODA Avalokitesvara di Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang, ditetapkan Museum Rekor Indonesia sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Pagoda yang memiliki tinggi 45 meter itu dibangun tujuh tingkat dengan hampir semua konstruksi bangunannya terbuat dari beton, banyak menggunakan latar warna merah dan beberapa arca di tiap tingkat pagodanya.
Selain itu, dua gazebo besar tampak mengapit di samping kanan-kirinya, yang nantinya digunakan sebagai tempat tambur dan lonceng, yang menjadi salah satu adat kelengkapan pagoda.
Juli lalu Manajer Muri Paulus Pangka menyerahkan penghargaan Muri nomor 2208/ R.MURI/VIII/2006 kepada Paul Sun Kok dan Halim Wijaya pimpinan Yayasan Buddhagaya Watugong, atas berdirinya pagoda tersebut. Diharapkan, keberadaan pagoda pertama di Indonesia itu, bisa menjadi wahana pemersatu sekte-sekte keagamaan Buddha di samping Candi Borobudur.
Pagoda Avalokitesvara ---juga disebut Pagoda Metakaruna atau Pagoda Cinta Kasih Sayang karena keberadaannya untuk menghormati figur cinta kasih dan kasih sayang, yaitu Kwan She Im Poo--- mulai dibangun Agustus tahun lalu. Rencananya pembangunan hanya membutuhkan waktu delapan bulan, namun molor menjadi 10 bulan karena menanti barang-barang dan patung dari Cina. Pembangunan dilatarbelakangi kebutuhan umat akan tempat ibadah yang lebih layak dan nyaman. Sebelumnya, di lokasi itu sudah berdiri vihara kecil yang didirikan tahun 1957.
Avalokitesvara Buddhagaya memiliki banyak keistimewaan. Mulai dari genteng, aksesori, relief tangga dari batu (9 naga), kolam naga, lampu naga, air mancur naga, hingga patung burung hong dan kilin, seluruhnya diimpor dari China.
Selain itu, pagoda itu terdiri atas tujuh tingkat. Tiap tingkat memiliki empat buah patung Dewi Kwan Im yang menghadap ke empat penjuru. Khusus di tingkat pertama, terdapat empat patung yang berbeda-beda. Patung Dewi yang membawa bunga dan teratai bisa digunakan pengunjung untuk berdoa agar dimudahkan mendapatkan jodoh.
Patung Dewi dengan membawa anak perempuan, ditujukan bagi pengunjung yang berkeinginan memiliki anak perempuan. Demikian pula dengan patung Dewi yang membawa anak laki-laki, digunakan pengunjung berdoa agar mendapatkan anak laki-laki. Satu lagi, patung Dewi Kwan Im digunakan pengunjung untuk memohon panjang umur. Khusus di tingkat VII, diisi empat buah patung Amitaba.
Selain 24 patung Dewi Kwan Im dan empat patung Amitaba, di tingkat I juga diletakkan satu patung besar Dewi Kwan Im dengan tinggi 5,10 meter serta satu patung Panglima We Do. Jumlah total patung yang ada di pagoda itu 30 buah. Patung besar Dewi Kwan Im dipasang menghadap Kota Semarang dengan tujuan agar masyarakat terhindar dari segala bencana. Patung Panglima We Do dimaksudkan sebagai pelindung keselamatan sekaligus penjaga pagoda tersebut
- from cybertokoh -
Runtime: 1m:43s
( Not yet rated )
From:
syant
Views:
351
Comments:
0
Added:
1403 days ago
Sam Po Kong
Gedung batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan. yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok bernama Zheng He / Cheng Ho () atau lebih lazim dikenal sebagai Sam Po Tay Djien. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang.
Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, didalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien.
Sam Po Kong - Semarang (Setyono Budhy Santosa, 2001)
Menurut cerita, Laksamana Zheng He () sedang mengadakan pelayaran menyusuri pantai laut Jawa dan sampai pada sebuah teluk atau semenanjung. Karena ada awak kapalnya yang sakit, ia memerintahkan membuang sauh. Kemudian ia menyusuri sungai yang sampai sekarang dikenal dengan sungai Kaligarang. Ia mendarat disebuah desa, Simongan. Setelah sampai didaratan, ia menemukan sebuah gua batu dan dipergunakan untuk tempat bersemedi dan bersembahyang. karena ia tertarik dan merasa tenang ditempat itu, ia memutuskan untuk sementara waktu beristirahat dan menetap ditempat tersebut. Sedangkan awak kapalnya yang sakit dirawat dan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ada disekitar tempat itu.
Sam Po Kong - Semarang (Setyono Budhy Santosa, 2001)
Konon, setelah Zheng He () meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang ditempat itu. Zheng He memberikan pelajaran bercocok-tanam dan dimalam hari mereka berkumpul didalam gua batu dan Zheng He memberikan pelajaran serta ajaran-ajaran tata cara pergaulan hidup di dunia. Cara bersyukur kepada Sang Pencipta serta menghormati para leluhur - nenek moyang.
Sehingga setalah Zheng He () meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan pelayarannya, mereka yang tinggal di Simongan, secara teratur melakukan pemujaan dan penghormatan kepada Zheng He guna menghormati jasa-jasanya. Sekarang peringatan atau sembahyang dilakukan pada setiap tanggal satu dan lima belas.
Sam Po Kong - Semarang (Setyono Budhy Santosa, 2001)
Zheng He () mendapat penghargaan dengan diangkat menjadi Thai Kam dengan gelar San Po atau Sam Po. Seorang Thai Kam adalah seorang pejabat yang dekat dengan keluarga Kaisar. Dan sejak itu Zheng He lebih dikenal dengan sebutan Sam Po Thai kam. Karenanya Zheng He sering juga di sebut Sam Po Tay Djien atau Sam Po Toa Lang. Tay Djien dan Toa Lang artinya orang besar.
Sam Po Kong - Semarang (Setyono Budhy Santosa, 2001)
Mereka memuja Sam Po Kong sebagai orang yang patut dihormati dan dijunjung tinggi serta dimohon berkahnya.
Disebelah kiri gua batu itu terdapat sebuah batu piagam, batu berukir tersebut diukir dalam tiga bahasa: China, Indonesia dan Inggris. Baru berukir tersebut dibuat khusus untuk memperingati kedatangan Zheng He () di Kota Semarang, dan merupakan sumbangan dari keluarga Liem Djing Tjie pada tahun 1960.
Oleh: Robby Sidharta - April 2001
Runtime: 1m:43s
( Not yet rated )
From:
syant
Views:
370
Comments:
0
Added:
1403 days ago
Selamat Jalan Soeharto
Selamat Jalan Pak Harto sang Jendral Besar, Bapak Pembangunan Indonesia, semoga arwahnya di terima di sisi tuhan YME.. Gajah mati meninggalkan gadingnya, dan tiada gading yang tak retak!
Runtime: 1m:27s
( Not yet rated )
From:
bruki
Views:
198
Comments:
0
Added:
1474 days ago
Sentra Masjid Pemberdayaan Umat
Rencana Pembangunan Sentra Masjid Pemberdayaan Umat (SAJIDA) yaitu sentra masjid untuk semua masjid. Digagas oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Barat untuk umat Islam dan masyarakat Jawa Barat
Runtime: 1m:52s
Tugu Muda
Lokasi : Jl. Pemuda Semarang
Pemilik : Pemda Tingkat I Jawa Tengah
Sejarah :
Merupakan tugu yang berpenampang segi lima. Terdiri dari bagian yaitu landasan, badan dan kepala. Pasa sisi landasan tugu terdapat relief. Keseluruhan tugu dibuat dari batu. Untuk memperkuat kesan tugunya, dibuat kolam hias dan taman pada sekeliling tugu. Bangunan yang berada disekitar tugumuda adalah lawang sewu, Kantor BDNI, Rumah Dinas Gubernur Jateng, Museum Manggala Bakti dan Katedral.
Bermula dari ide untuk mendirikan monumen yang memperingati peristiwa Pertempuran Lima hari di Semarang. Pada tanggal 28 Oktober 1945, Gubernur Jawa Tengah, Mr. Wongsonegoro meletakkaan batu pertama pada lokasi yang direncanakan semula yaitu didekat Alun-alun. Namun karena pada bulan Nopember 1945 meletus perang melawan Sekutu dan Jepang, proyek ini menjadi terbengkalai. Kemudian tahun 1949, oleh Badan Koordinasi Pemuda Indonesia (BKPI), diprakarsai ide pembangunan tugu kembali, namun karena kesulitan dana, ide ini jugaa belum terlaksana. Tahun 1951, Walikota Semarang, Hadi Soebeno Sosro Wedoyo, membentuk Panitia Tugu Muda, dengan rencana pembangunan tidak lagi pada lokasi alun-alun, tetapi pada lokasi sekarang ini. Desain tugu dikerjakan oleh Salim, sedangkan relief pada tugu dikerjakan oleh seniman Hendro. Batu yang digunakan antara lain didatangkan dari kaliuang dan Paker. Tanggal 10 Nopember 1951, diletakkan batu pertama oleh Gubernur Jateng Boediono dan pada tanggal 20 Mei 1953, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Tugu Muda diresmikaan oleh Soekarno, Presiden Republik Indonesia. Hingga sekarang, cukup banyak perubahan yang telah dilakukan terhadap arca di sekitar tugu muda, antara lain pembuatan taman dan kolam.
from tugumuda.com
Runtime: 2m:24s
( Not yet rated )
From:
syant
Views:
672
Comments:
0
Added:
1403 days ago